I hated people who disturb my privacy area.
Tersangka utamanya adalah adikku. Walaupun kami sesama perempuan, bukan berarti dia bisa seenak jidatnya keluar-masuk kamarku. Apalagi kalau sedang mencari sesuatu. Nggak nanggung-nanggung. Kamarku langsung berubah menjadi wilayah yang terkena angin topan. Semuanya berserakan. And i really hate it.
Kalau sudah begini biasanya aku bakal gantian acak-acak kamarnya.Hehehe... take that. (Dan di belakang author sang adik ngamuk-ngamuk nggak jelas.)
Dan lagi jika ada orang lain yang berada di dekatku, sampai-sampai melewati batas privasi. Hal ini, well, sering aku alami sebagai seorang pekerja part time di rental internet milik keluarga.
Jadi ceritanya, setiap aku sedang giliran berjaga. Pasti ada saja yang bertanya, "Kak, waktu komputer ini tinggal berapa?"
"Kak, kok waktu komputer ini bertambah" dan 'kak-kak' yang lainnya. Kalau bertanya biasa aja sih nggak apa-apa. Tapi iniloh, mukanya di condongi ke depan, jadi persis di samping kepalaku. Dah nafasnya bau lagi (apaan). Kalau dah begini biasanya bakal aku usir. Tapi kalau berulang lagi. Biasanya aku mogok jaga. Males sih, jaga tapi yang main nggak punya sopan santun.
Yah, pokoknya begitu deh. Kalian tentunya juga bakalan risih kan?
My Diary
Curhatan, Cerpen, Puisi, review, dan semua hal yang menyangkut bahasa
Jumat, 23 September 2016
Jumat, 09 September 2016
Kebiasaan Aneh
Dari dulu, aku selalu punya kebiasaan yang bisa dibilang err-- aneh.Setiap sampai di rumah-entah dari manapun, pasti akan selalu melesat ke arah kamar kecil. Bhakkss-- aneh. Herannya, jika sedang keluar rumah, tak pernah ada keinginan untuk BAK.
Pernah, sewaktu pulang sekolah. Setelah sampai di rumah, aku berjalan dengan santai, tak seperti biasanya. Mamaku tentu saja bingung melihatnya-karena beliau sudah tau kebiasaanku :p
Jadi beliau bertanya, "Tumben, nggak buru-buru masuk wc."
Aku yang mendengarnya, langsung nyengir, "Hehehe, nih dah mau lari." Dan benar saja. Tak sampai sedetik aku sudah sampai di dalam wc untuk menuntaskan panggilan alam. Bahasanya elah. XD
Dan sampai sekarang kebiasaan itu masih betah tinggal di diriku ini #hiks
Yah, semoga kalian nggak punya kebiasaan kayak aku ya XD
Pernah, sewaktu pulang sekolah. Setelah sampai di rumah, aku berjalan dengan santai, tak seperti biasanya. Mamaku tentu saja bingung melihatnya-karena beliau sudah tau kebiasaanku :p
Jadi beliau bertanya, "Tumben, nggak buru-buru masuk wc."
Aku yang mendengarnya, langsung nyengir, "Hehehe, nih dah mau lari." Dan benar saja. Tak sampai sedetik aku sudah sampai di dalam wc untuk menuntaskan panggilan alam. Bahasanya elah. XD
Dan sampai sekarang kebiasaan itu masih betah tinggal di diriku ini #hiks
Yah, semoga kalian nggak punya kebiasaan kayak aku ya XD
Kamis, 21 Juli 2016
My Daily Life- Awal masuk SMA
Kaki ku mati rasa. Keringat dingin terus menerus meluncur dari pelipisku. Kedua tangan dan kaki ku mulai bergetar, namun tak ku pedulikan. Entah mengapa tiba-tiba kepalaku terasa berat. Pandanganku terus menerus berputar, berharap melihat sesuatu yang familiar. Sesaat aku berjalan. Mencoba terbiasa dengan pandangan orang-orang di samping kanan kiri ku. Entah karena gugup ataupun memang aku yang ceroboh, aku terjatuh. Beberapa orang yang memperhatikan memberi pandangan kasihan. Sedangkan sisanya mencoba menahan tawa mereka. Mengaduh sebentar, aku mulai bangkit lagi dengan wajah memerah menahan malu dengan setitik air mata di sudut mata ku. Tawa mereka lepas. Menertawakan nasibku yang sangat malang. Aku hanya bisa berteriak dalam hati,
'AKU BENCI AWAL MASUK SEKOLAH!'
'AKU BENCI AWAL MASUK SEKOLAH!'
Minggu, 29 Mei 2016
My Daily Life - Cerpen sehari-hari (Bagian 1)
Pagi ini hujan lagi-lagi mengguyur daerahku. Ku hela napas pasrah. Sepertinya hari ini aku akan sampai di sekolah dalam keadaan basah kuyup lagi. Mengingat aku harus naik sepeda untuk sampai ke jalan besar dimana angkutan umum biasanya beroperasi. Di tambah lagi rumahku yang berada di daerah pedalaman.
Kuucapkan salam kepada kedua orang tuaku. Mengeluarkan sepeda kesayanganku dari garasi, dan ku kayuh dengan cepat. Tak ku pedulikan rintik-rintik hujan yang mengenai tubuhku. Beruntung saat itu jalanan sedang sepi, sehingga aku bisa mengebut sesukaku.
Sesaat setelah sampai, ku letakkan sepedaku di penitipan sepeda yang memang didirikan di dekan jalan besar itu. Dengan cepat ku hentikan salah satu angkutan umum dan naik. Beberapa orang yang ada di dalam angkutan umum itu melihatku dengan pandangan kasihan. Yup, kasihan. Tentu saja karena bajuku yang dengan suksesnya basah di timpa hujan tadi.
Beberapa saat kemudian angkutan umum yang kutumpangi berhenti di depan sekolahku. Dengan cepat aku keluar dan hendak membayar, ketika akhirnya aku ingat ongkosku masih ada di dalam tas. Dengan cepat ku lepas tas ku dan mengobrak-abrik isinya dan ditambah terkena hujan -lagi-. Tiba-tiba, belum sempat ku berikan ongkosku, angkutan umum itu melaju, meninggalkan diriku yang tengah mencerna kejadian yang terjadi. Hingga akhirnya aku sadar.
"Apa keadaanku terlalu memprihatinkan ya?"
Kuucapkan salam kepada kedua orang tuaku. Mengeluarkan sepeda kesayanganku dari garasi, dan ku kayuh dengan cepat. Tak ku pedulikan rintik-rintik hujan yang mengenai tubuhku. Beruntung saat itu jalanan sedang sepi, sehingga aku bisa mengebut sesukaku.
Sesaat setelah sampai, ku letakkan sepedaku di penitipan sepeda yang memang didirikan di dekan jalan besar itu. Dengan cepat ku hentikan salah satu angkutan umum dan naik. Beberapa orang yang ada di dalam angkutan umum itu melihatku dengan pandangan kasihan. Yup, kasihan. Tentu saja karena bajuku yang dengan suksesnya basah di timpa hujan tadi.
Beberapa saat kemudian angkutan umum yang kutumpangi berhenti di depan sekolahku. Dengan cepat aku keluar dan hendak membayar, ketika akhirnya aku ingat ongkosku masih ada di dalam tas. Dengan cepat ku lepas tas ku dan mengobrak-abrik isinya dan ditambah terkena hujan -lagi-. Tiba-tiba, belum sempat ku berikan ongkosku, angkutan umum itu melaju, meninggalkan diriku yang tengah mencerna kejadian yang terjadi. Hingga akhirnya aku sadar.
"Apa keadaanku terlalu memprihatinkan ya?"
Sabtu, 14 Mei 2016
Kumpulan Puisi bertema "Perpisahan"
Hello~ XD, di sini ada beberapa puisi, yang tentu saja bukan buatanku XD walau ada satu
Jika ingin mengopy, tolong cantumkan credit yah :) untuk menghormati para pembuatnya XD
1. By Chinatsu Kinoshita
Di bawah naungan kelam
Ku buka mata
Di bawah kelabu tangis
Ku ucap do'a
Inikah akhir?
Inikah karma?
Kau telah berpayung
Di bawah kain hijau
Kau akan hilang
Di telan sang bumi
Hei, apa kau bahagia?
Meninggalkan kami
Dengan segala plipur lara
Tak mencoba berhenti
Mencoba terkubur
Mencoba menghilang
Apakah itu yang kau inginkan?
Kenapa?
Dan kau hanya membisu
Tanpa bisa menjawab apapun
2. By Leonyta Camelia
Jingga meninta dirgantara senja
Menyelundupkan sinar berlebih ke retina
Kupeluk reminisensi yang nyaris tenggelam
Bersama sang baskara di ufuk barat
Mengoyak inci demi inci kisah lampau dalam ruang memori
Mencari secarik arsip yang terselip di dalamnya
Tersulam dari asa kita
yang tak sempat menyentuh realita
Sensasi nostalgia menggelenyar dalam dada
Sembilu kasat mata menyayat hati
Barikade kokoh tercipta di antara kita
Afirmasi pilu telah menyadarkanku
Kau terlampau aksa di angkasa!
Kepada siapa kini kau bersua? Pada Tuhan-kah?
Benar adanya, bahwa kini kau tak tergapai bagi afeksiku
3. By Nurule Freenzy
Jelas, perbedaan terlihat
Antara aku dan kamu
Aku adalah gadis penghujan
Membawa kesedihan dan duka
Kamu adalah pemuda bintang
Membawa cahaya dan ceria
Aku memang bodoh
Hujan dan bintang tidak bisa bersatu
Atau untuk satu tempat yang sama
Namun, Izinkan aku ..
Untuk sekedar memayungimu
Berkecamuk dalam dukamu
Agar tak kau rasakan sakit
Bila tak ku raih bintang
Biarlah aku sekedar memandangmu
Diatas sana, lalu
Izinkanku tetap menikmati cinta semu ini !
4. By Tasori
Duhai bidadari pengajar ngaji
Jahiliah hati sang santri
Kini cerah olehmu sang bidadari
Kau penawar kala kekalutan
Kau pedoman cahaya kebenaran
Hatimu sangatlah
mulia,
berkorban tak harapkan jasa
Ajarmu sangatlah berguna,
rekahkan tunas tunas faedah
bangsa
Sungguh, Kau pengusap air mata duka
Sungguh, Kau penabur suka,
dari landaan ombak merana
Kau pelita tajam bagai sang surya
Pancarkan ketenangan jagat raya
Kau pelangi beribu warna
Hiasi jiwa jiwa manusia, suguhkan embun bahagia
Malam ini aku merindui
Padamu bidadari pengajar ngaji
Malam ini ku puji Ilahi
Kerana, telah tercipta bidadari berseri, yang selalu
tersiram air wudlu suci
Duhai bidadari pengajar ngaji Senyumu membekas direlung
sanubari dan begitu berarti
Matamu menginspirasi untuk ku
tuliskan puisi
Kerudungmu serasi dengan
wajahnya yang indah berseri Perkataan lembut memang nyata
kau berbudi pekerti
Langkah kakimu selalu terniat
mencari ridhonya Ilahi
Duhai bidadari pengajar ngaji,
aku rindu melihatmu mengajarkan tentang Nabi
Tentang agama dan kitab suci
Tentang malaikat dan tugas yang
diamanati
Duhai bidadari pengajar ngaji,
kau sangat sabar ajari santri santri
Kepada santri yang tak mau berbakti
Kepada santri yang suka mencaci
Namun semangatmu selalu
menyinari
Duhai bidadari pengajar ngaji
Pernak-pernik budi pekerti yang kau miliki
Bagai kemilau indahnya permata
Rangkaian kata yang
terlantun dari bibir manisnya
Menyejukan jiwa siapa yang
mendengarkannya
Kau perempuan yang pandai mengemudikan diri
Dari mudorotnya lingkungan
yang keji
Keteguhan iman dan takwa yang tertali didalam hati
Menjadikan engkau soliha
atas bakti pada ilahi
Jika ingin mengopy, tolong cantumkan credit yah :) untuk menghormati para pembuatnya XD
1. By Chinatsu Kinoshita
Di bawah naungan kelam
Ku buka mata
Di bawah kelabu tangis
Ku ucap do'a
Inikah akhir?
Inikah karma?
Kau telah berpayung
Di bawah kain hijau
Kau akan hilang
Di telan sang bumi
Hei, apa kau bahagia?
Meninggalkan kami
Dengan segala plipur lara
Tak mencoba berhenti
Mencoba terkubur
Mencoba menghilang
Apakah itu yang kau inginkan?
Kenapa?
Dan kau hanya membisu
Tanpa bisa menjawab apapun
2. By Leonyta Camelia
Jingga meninta dirgantara senja
Menyelundupkan sinar berlebih ke retina
Kupeluk reminisensi yang nyaris tenggelam
Bersama sang baskara di ufuk barat
Mengoyak inci demi inci kisah lampau dalam ruang memori
Mencari secarik arsip yang terselip di dalamnya
Tersulam dari asa kita
yang tak sempat menyentuh realita
Sensasi nostalgia menggelenyar dalam dada
Sembilu kasat mata menyayat hati
Barikade kokoh tercipta di antara kita
Afirmasi pilu telah menyadarkanku
Kau terlampau aksa di angkasa!
Kepada siapa kini kau bersua? Pada Tuhan-kah?
Benar adanya, bahwa kini kau tak tergapai bagi afeksiku
3. By Nurule Freenzy
Jelas, perbedaan terlihat
Antara aku dan kamu
Aku adalah gadis penghujan
Membawa kesedihan dan duka
Kamu adalah pemuda bintang
Membawa cahaya dan ceria
Aku memang bodoh
Hujan dan bintang tidak bisa bersatu
Atau untuk satu tempat yang sama
Namun, Izinkan aku ..
Untuk sekedar memayungimu
Berkecamuk dalam dukamu
Agar tak kau rasakan sakit
Bila tak ku raih bintang
Biarlah aku sekedar memandangmu
Diatas sana, lalu
Izinkanku tetap menikmati cinta semu ini !
4. By Tasori
Duhai bidadari pengajar ngaji
Jahiliah hati sang santri
Kini cerah olehmu sang bidadari
Kau penawar kala kekalutan
Kau pedoman cahaya kebenaran
Hatimu sangatlah
mulia,
berkorban tak harapkan jasa
Ajarmu sangatlah berguna,
rekahkan tunas tunas faedah
bangsa
Sungguh, Kau pengusap air mata duka
Sungguh, Kau penabur suka,
dari landaan ombak merana
Kau pelita tajam bagai sang surya
Pancarkan ketenangan jagat raya
Kau pelangi beribu warna
Hiasi jiwa jiwa manusia, suguhkan embun bahagia
Malam ini aku merindui
Padamu bidadari pengajar ngaji
Malam ini ku puji Ilahi
Kerana, telah tercipta bidadari berseri, yang selalu
tersiram air wudlu suci
Duhai bidadari pengajar ngaji Senyumu membekas direlung
sanubari dan begitu berarti
Matamu menginspirasi untuk ku
tuliskan puisi
Kerudungmu serasi dengan
wajahnya yang indah berseri Perkataan lembut memang nyata
kau berbudi pekerti
Langkah kakimu selalu terniat
mencari ridhonya Ilahi
Duhai bidadari pengajar ngaji,
aku rindu melihatmu mengajarkan tentang Nabi
Tentang agama dan kitab suci
Tentang malaikat dan tugas yang
diamanati
Duhai bidadari pengajar ngaji,
kau sangat sabar ajari santri santri
Kepada santri yang tak mau berbakti
Kepada santri yang suka mencaci
Namun semangatmu selalu
menyinari
Duhai bidadari pengajar ngaji
Pernak-pernik budi pekerti yang kau miliki
Bagai kemilau indahnya permata
Rangkaian kata yang
terlantun dari bibir manisnya
Menyejukan jiwa siapa yang
mendengarkannya
Kau perempuan yang pandai mengemudikan diri
Dari mudorotnya lingkungan
yang keji
Keteguhan iman dan takwa yang tertali didalam hati
Menjadikan engkau soliha
atas bakti pada ilahi
Langganan:
Postingan (Atom)
